Kekalahan Sriwijaya FC saat menjamu klub asal Uni Emirat Arab dengan skor telak 0-4 di babak final play off Liga Champion Asia (LCA) membuat klub kebanggaan masyarakat Sumsel ini harus puas mengikuti kompetisi di kasta kedua,yakni AFC Cup. Kekalahan ini juga merupakan yang terbesar di musim ini diderita anak asuh Iven Venkov Kolev saat bermain di kandang. Padatnya jadwal kompetisi domestik di Liga Super Indonesia yang disusun oleh PT Liga Indonesia dan PSSI mengakibatkan banyaknya pemain inti mengalami cidera.
Sementara pemain lainnya hanya memiliki sedikit waktu untuk memulihkan kondisi tubuh. Belum lagi ditambah tidak bisa dipinjamnya tiga pemain muda yang mengikuti pelatnas U-23 jangka panjang sebagai persiapan menghadapi ajang SEA Games 26th dan Pra Olimpiade memperparah kondisi Laskar Wong Kito untuk mengukir prestasi di kancah sepakbola tingkat asia seperti LCA. Pelatih Sriwijaya FC Ivan Venkov Kolev menilai PSSI tidak peduli dengan kondisi klub Indonesia yang akan berlaga di kompetisi level Asia seperti Liga Champion Asia (LCA) dan AFC Cup.
Ungkapan Kolev sangat beralasan, pasalnya akibat padatnya jadwal kompetisi domestik Liga Super Indonesia (LSI) membuat tim yang menjadi kontestan LCA seperti SFC tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan persiapan.Padahal dengan adanya klub Indonesia yang berlaga di LCA, sama artinya dengan membawa nama baik bangsa dan negara Indonesia. “Seharusnya jadwal pertandingan bisa diatur sedemikian rupa. Sehingga tim-tim seperti SFC,Arema dan Persipura memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan diri lebih baik.Tujuannya agar bisa tampil maksimal dalam menjalani kompetisi di tingkat Asia. Belum lagi jika Piala Indonesia nanti sudah digelar,”ujarnya.
Saat ini saja, lanjut pelatih asal Bulgaria ini, Laskar Wong Kito harus bertanding setiap tiga hari sekali dan itu telah menguras tenaga para pemain. Akibatnya hampir di setiap pertandingan pasti selalu ada pemain SFC yang mengalami cidera secara bergantian. “Belum lagi baru-baru ini sejumlah pemain kita banyak yang memperkuat timnas Indonesia di ajang Piala AFF dan di saat mereka masih dilanda kelelahan kompetisi. Namun sudah harus mulai kembali bermain tanpa memberikan waktu lebih banyak agar pemain bisa menjalani recovery,” ungkapnya. Kolev pantas untuk mengeluh. Apalagi sejak memperkuat timnas di ajang Piala AFF beberapa pemain inti SFC seperti M Ridwan, Arif Suyono,Oktovianus Maniani sangat rentan terkena cidera.
Bahkan Firman Utina terpaksa harus absen dalam waktu yang cukup lama. “Seperti Okto, dia tidak bisa kita pinjam untuk membela SFC saat melawan Muangthong karena ternyata dia cidera dan selama di Pelatnas dia hanya jogging saja dan belum pernah mengikuti latihan game-game. Bahkan saat akan menghadapi Muangthong United dalam babak play off enam sampai sem-bilan pemain kita kemungkinan tidak bisa tampil,”keluhnya. Kolev menambahkan jika kondisi seperti ini terus terjadi maka dia merasa sampai kapanpun tim Indonesia tidak akan ada yang berprestasi di ajang tingkat Asia. Kapten SFC Keith Kayamba Gumbs juga menyesalkan hal yang sama, menurut dia, dengan padatnya jadwal kompetisi yang harus dilalui SFC di LSI membuat cidera yang menimpa dirinya tak bisa sembuh total.
“Bagaimana bisa kalau dalam tiga hari sekali kita sudah harus bermain lagi,belum lagi kalau harus away, tentunya waktu untuk memulihkan kondisi tidak ada. Jadi kalau saya yang 100% hanya semangat sedangkan fisik tidak. Semua dikarenakan jadwal yang terlalu padat dan ini harus dibenahi jika ingin sepakbola Indonesia lebih maju dari sekarang,” harapnya. Manajer SFC Hendri Zainuddin menambahkan, sebelum melawan Al Ain dalam 34 hari SFC harus bermain sebanyak 10 kali baik tandang maupun kandang. Dengan kondisi pemain yang kelelahan dan cidera, SFC tinggal memiliki 14 pemain yang terus menerus dan secara bergantian bermain dalam jangka waktu ratarata 3 hari satu kali pertandingan, sehingga kurang pemulihan.
“Kita sangat berharap PT Liga Indonesia dan PSSI dapat membenahi jadwal kompetisi. Jangan hanya memilikirkan kuantitas tetapi juga kualitas dan kondisi pemain.Terutama bagi tim Indonesia yang berlaha di kancah Asia, baik LCA maupun AFC Cup dan sudah seharusnya diberikan sedikit kelonggaran,”bebernya. Dia juga menjelaskan, tidak ada masalah dengan gaji pemain, hanya saja faktor kelelahan dan padatnya kompetisi menjadikan langkah SFC semakin berat dalam menjalani banyaknya kompetisi. Belum lagi jika Piala Indonesia sudah di gelar Maret mendatang. Demikian catatan online Komodo Island is the NEW 7 Wonders of The World tentang Kekalahan Sriwijaya FC.
Sunday, February 20, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment